Kamis, 16 Oktober 2014

Studi Kasus Situasi Bisnis - Porter's 5 Forces

Studi Kasus Bagian 3 - Situasi Bisnis - Porter's 5 Forces

Porter's Five Forces

Adalah framework untuk menganalisis tingkat kompetisi dalam suatu industri. Dengan menggunakan framework ini pengambil keputusan dapat mengetahui apakah industri tersebut menarik atau tidak untuk dimasuki. Framework ini juga dapat mengetahui faktor kunci sukses dalam industri tersebut. Walaupun demikian, bagian dari framework ini dapat juga berguna sebagai awal untuk memecahkan kasus situasi bisnis, seperti : peluncuran produk baru, market entry, dsb.

Porter's Five Forces (Sumber)

Kamis, 09 Oktober 2014

Perlukah Tes Kepribadian Untuk Proses Seleksi Kerja?

Perlukah Tes Kepribadian Untuk Proses Seleksi Kerja?

Artikel ini ditulis sebagian berdasarkan artikel Beaz III, 2012 yang berjudul "Personality Tests in Employment Selection: Use With Caution." Penulis juga melakukan studi pustaka pada jurnal yang diacu pada referensi tersebut.
Simba's personality (sumber).

Rabu, 08 Oktober 2014

Penyelesaian Studi Kasus - Bagian 2 Value Chain

Penyelesaian Studi Kasus - Bagian 2 Value Chain

Pada bagian ini saya akan menjelaskan mengenai kasus profitability yang dilanjutkan dengan value chain. Pembaca yang diharapkan sudah paham mengenai Studi Kasus dan Cara Menyelesaikan - Bagian 1 Profit.

Porter's Value Chain
Menggambarkan rantai nilai dari perusahaan yang dibagi kedalam dua kategori aktivitas, aktivitas primer (inbound - process - outbound - marketing - service) dan aktivitas pendukung (infrastruktur | HR | teknologi | procurement). Diagram ini sangat berguna untuk mengetahui bagaimana perusahaan menciptakan nilai, dapat juga memetakan masalah internal perusahaan.
Porter's Value Chain (Sumber)

Studi Kasus dan Cara Menyelesaikan - Bagian 1 Profit

Studi kasus dan cara menyelesaikan - bagian 1 profit

Pada dasarnya studi kasus dalam Harvard Business Review (HBR) atau yang lain dapat diselesaikan menggunakan langkah-langkah dasar sebagai berikut:
1. Tentukan isu utama.
2. Tentukan framework yang sesuai dengan isu utama.
3. Analisis menggunakan framework yang telah ditetapkan. Apabila terdapat data yang tidak lengkap, tanyakan pada penguji atau buat asumsi sendiri apabila penguji tidak mempunyai informasi (D'oh!).
4. Ambil kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan analisis.

Untuk kasus yang rumit/kompleks bisa jadi ada lebih dari satu framework yang digunakan. Catatan penting adalah bagaimana logika yang dibangun dapat urut (sekuensial) dan tidak lompat-lompat sehingga hasil analisis -> kesimpulan -> rekomendasi dapat logis dan akurat.

Pada bagian ini saya akan membahas framework yang paling dasar dalam memecahkan studi kasus yaitu profitability framework.


Profitability Framework (Sumber)

Selasa, 23 September 2014

Tesis - Dampak Perubahan Fraksi Harga dan Satuan Perdagangan

Tesis : Dampak Perubahan Fraksi Harga dan Satuan Perdagangan pada Variabel Bid-Ask Spread, Depth, dan Satuan Perdagangan. Studi pada Bursa Efek Indonesia.



 
INTISARI

Likuiditas pasar modal sering diukur dengan variabel bid-ask spread, depth, dan volume perdagangan. Berbagai penelitian mengaitkan perubahan fraksi dan satuan perdagangan saham pada variabel-variabel tersebut, namun terdapat hasil yang berbeda pada hasil penelitian berbagai bursa di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan bid-ask spread, depth, dan volume perdagangan sesudah kebijakan baru fraksi harga dan satuan perdagangan diberlakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Januari 2014.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Free To Play Dalam Perspektif Bisnis

"Free To Play" dalam perspektif bisnis

Free To Play adalah film dokumenter yang menceritakan pemain profesional DOTA2 berjuang memperebutkan 1 Juta Dollar hadiah juara. Dota2 adalah sebuah permainan online multiplayer PC yang selama beberapa tahun terakhir selalu populer. Saya tidak akan membahas tentang Dota2 namun lebih kepada aspek bisnis, teknologi, dan tren yang terinspirasi setelah melihat film ini.

Sebelumnya saya sarankan untuk melihat filmnya (gratis) di Youtube..


Kamis, 28 Agustus 2014

Mengukur Likuiditas Pasar Modal

Mengukur Likuiditas Pasar Modal

Likuiditas merupakan konsep yang sudah sangat tua dan memiliki banyak definisi Menurut Keynes, sebuah aset lebih likuid daripada yang lain apabila dapat direalisasikan dalam waktu yang singkat tanpa kerugian. Kata kunci disini adalah waktu yang singkat dan tanpa kerugian. Aset yang likuid lebih menguntungkan karena tidak mengurangi nilai ketika diperdagangkan. Menurut Brunnermeier dan Pedersen (2009), likuiditas adalah kemudahan suatu aset diperdagangkan, sedangkan menurut Ross et al. (2012, h.23), likuiditas adalah kecepatan dan kemudahan aset diubah menjadi kas.

Empat dimensi sering diasosiasikan dengan likuiditas dalam literatur struktur mikro pasar, yaitu width, depth, immediacy, dan resiliency. Menurut Harris (1990), width merujuk pada spread pada jumlah saham tertentu, depth merujuk pada jumlah saham yang dapat diperdagangkan pada harga terakhir (quotation), immediacy merujuk pada seberapa cepat saham sukses diperdagangkan pada harga tertentu, dan resiliency merujuk pada seberapa cepat harga kembali ke keadaan sebelumnya ketika terjadi perubahan akibat arus permintaan yang tidak seimbang oleh pelaku pasar yang tidak mendapatkan informasi. Secara keseluruhan, pasar likuid apabila pelaku pasar dapat dengan cepat membeli atau menjual jumlah saham yang banyak kapanpun mereka mau pada biaya transaksi yang rendah.

Sumber